Lebih Dari Sekedar Sedekah

Konteks,Makna dan relevansi ADD

kadek-foto1-167Alokasi Dana Desa ( ADD ) tengah menjadi sebuah ikon terkemuka dalam pengelolaan pemerintahan dan pembangunan desa di Kabupaten Bangli sela ini,Forum Komunikasi Perbekel dan Lurah Kabupaten Bangli terus berupaya untuk memberikan referensi kepada Pemerintah daerah dalam menyusun format ADD yang diharapkan mampu untuk menjawab kesenjangan fiskal ( fiscal gap ) yang selama ini terus membawa desa terperosok dalam jurang kemiskinan dan selalu termarginalkan.Sebagai sebuah ikon terkemuka,ADD tentu patut disambut dengan berbagai pertanyaan penting yang mempunyai titik relevansi dengan agenda pembaharuan desa,menuju desa yang mandiri,demokratis dan sejahtera. Mengapa ADD ? Apa latar belakangnya ? Apa makna yang terkandung didalamnya ? Seberapa besar kemampuan Sumbangan ADD dalam mengurangi kemiskinan di desa dan pencapaian kesejahteraan bagi masyarakat desa.Sederet pertanyaan ini terkait dengan konteks,makna dan relevansi ADD.Konteks berbicara tentang latar belakan kelahiran ADD,yang akan saya kaitkan dengan masalah-masalah keterbatasan keuangan desa dan kebijakan keuangan daerah dan negara yang hanya sebatas sedekah dan kurang berpihak kepada desa.Makna berbicara tentang tujuan dan manfaat ADD bagi upaya-upaya desentralisasi,mengkaji ulang uang sedekah,penguatan ekonomi desa,dan pemberdayaan desa.Sedangkan relevansi berbicara tentang kesesuaian ADD untuk orang miskin di Desa,dan seberapa besar kontribusi ADD untuk penanggulangan kemiskina.Aspek relevansi ini penting untuk diketahui bersama sebab penanggulangan kemiskinan merupakan sebuah agenda besar,sementara ADD hanya “uang receh” atau ” kue kecil”dari potongan “ kue besar”di APBD dan APBN.

Konteks : Sebatas Sedekah

inspirasiDesa selslu berada dalam posisi tidak berdaya,marginal,tidak jelas,ambivalen,dan seterusnya.Secara politik desa berada dalam posisi yang marginal,desa selalu menjadi obyek kekuasaan pemerintah supradesa.Secara yuridis posisi desa sangat ambivalen ( abu-abu ),antara unit pemerintahan atau sebagai kesatuan/lembaga masyarakat,tetapi desa tetap menjalankan tugas-tugas administrasi yang diberikan oleh pemerintah supradesa melalui berbagai tugas pembantuan.Karena itu tidak berlebihan kalau ada yang menyebut desa hanya sebagai gedibal ( pekerja kasar yang tidak mendapatkan penghargaan secara manusiawi ).Pada saat yang ama otonomi desa dan penyelenggaraan pemerintahan desa masih menggunakan pola-pola tradisional.Secara sosiologis,desa selslu identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan,desa tidak lagi menjadi basis kehidupan dan penghidupan masyarakat desa,sehingga penduduk desa melakukan migrasi besar-besaran ke kota.

Ada beberapa masalah yang berlarut-larut dari kacamata forum kaitannya dengan keuangan desa dan sumber-sumbernya yaitu :

  1. Keuangan desa kalau dilihat hanya bekerja dalam kesendirian bukan kemandirian yakni lebih banyak ditopang oleh swadaya atau gotong royong yang diuangkan oleh pemerintah desa.Jika APBD dan APBN ditopang dari Pajak,retribusi dan hasil sumberdaya alam yang lain.
  2. Skema Pemberian dana dari pemerintah kepada desa tidak memperlihatkan keberpihakan dan tidak mendorong pemberdayaan.Pemerintah memberikan bantuan alakadarnya kepada desa,yang lebih pantas disebut sebagai sedekah.
  3. Perencanaan pembangunan yang selama ini telah dilakukan dengan pola partisipatif ditingkat desa belum mampu diakomodir oleh pemerintahan supradesa karena sebagian besar anggaran dari APBD dikonsumsi untuk belanja aparatur ( belanja rutin ).

One thought on “Lebih Dari Sekedar Sedekah”

  1. Setuju dengan pandangan terkait kedudukan desa dalam keuangan daerah kabupaten. Jujur saja, sepertinya ada keengganan, atau bahkan ketidakperdulian Pemda kabupaten terhadap Desa.

    Dalam “pembagian” keuangan daerah untuk Desa, tolok ukur yang jelas juga jarang dibuat. Semuanya seperti sangat rumit….

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s